August 19, 2013

Fin

+ No comment yet
Chapter 6
Ia terlihat tanpa beban dari air mukanya. Pun begitu, jauh di hatinya, ia sedang bingung. Matanya menerawang jauh ke depan, mencoba melihat apa yang akan terjadi padanya di waktu yang akan datang. Ia memainkan imajinya, memainkan sentuhan kuasa akan masa depannya. Namun sia-sia saja, yang berkehendak tak setuju dengan dirinya.
...
494517.jpg (2205×554)
Aku berkenalan dengannya, diantara senyum mendungnya. Siapapun tak mengira ia sedang bersembunyi, atau lebih tepatnya berlari, dari ketakutan masa lalunya. Ya, masa lalu yang belum sanggup ia tinggalkan di belakang. Senyumnya terasa pahit baginya, seakan-akan ia lupa bagaimana manisnya ia tersenyum, bagaiman tawanya ketika ia senang, dan bagaimana bahagianya ketika semua itu masih ada. Tak ada, tak ada yang tersisa. Ia lupa mengingatnya karena terlalu dalam terjatuh dalam peluh nestapanya.
Ia rapuh, serapuh debu yang tertiup angin. Perlahan, aku mulai mengenalnya, dan mulai terjatuh semakin dalam dengan kerapuhannya. Ia rapuh, begitupun juga aku. Dan ia membuatku bermimpi, jauh memimpikan dari apa yang mampu aku jangkau, bahkan ketika waktu berhenti, lalu berputar sekalipun. Setidaknya, ia pernah membuatku menjadi sedikit gila, menjadi bukan aku, bukan diriku, hingga aku sadar, semua itu bukanlah aku. Tapi jalan takdir tetaplah jalan takdir, sekuat apapun aku mencoba menerimanya, aku tetap tak mampu. Melawan tak mampu, menerima pun tak mampu. Dan pada akhirnya aku hanyalah manusia-Nya.
Aku hanya sebentar dipersinggahannya, ya tak selama yang aku kira. Aku hanya membantunya berdiri, menjadi kuat di atas dirinya sendiri, dan menunjukkan jalan yang seharusnya ia lalui. Dan ketika ia mampu berjalan sendiri, ia perlahan maju meninggalkan punggungnya di kejauhan. Dan semakin menghilang. Aku masih terpaku ketika itu. Aku.. rapuh lagi.
...
Waktu terus berputar, bahkan ketika aku berharap aku bisa menghentikannya, dan memutar ulang. Ia terus berjalan, bahkan ketika aku masih belum mampu berjalan lagi. Kejam, memang. Tapi, jika waktu tidak kejam, maka akulah yang bodoh. Terlena dan berputus asa bukanlah pilihan terbaik. Masih ada yang lebih baik, dan selalu akan ada yang lebih baik. Itulah yang mulai aku percaya, dan aku percaya hingga sekarang, hingga aku dipertemukan dengannya, saat ini, bukan yang sudah lalu. 
Kau pernah membuatku yakin, tapi kau pernah membuatku bimbang. Kau pernah membuatku kuat, tapi kau pernah membuatku lemah.Kau pernah membuatku tertawa, tapi kau pernah membuatku nelangsa. Pada akhirnya, kau, aku, dan kita, hanyalah sebuah bagian kecil dari sebuah cerita. Cerita dimana kita pernah berjalan bersama dan akhirnya bersimpangan ke arah yang berbeda. Kita tak pernah sama. Dan aku tak menyesali itu.
Seperti yang pernah kau ucapkan “Ini yang terbaik.” Dan inilah saat terbaik, untuk membuka impian baru, yang lebih baik, lebih baik dari apa yang sudah pernah kau goreskan. 
Adieu.
#bumikelangit #theseries
November 21, 2012

P(l)ayback Time

+

Chapter 5

25.jpg (1600×1000)


Kita dan Kita?


#BumiKeLangit
July 12, 2012

Tiga

+ No comment yet
Chapter 4

Aku beradu dengan ganasnya waktu menggerogoti jalanku.

Aku beradu dengan menipisnya semangatku,

yang sejalan dengan menipisnya harapanku.

Aku beradu dengan tingginya mimpiku,

yang semakin jauh dengan gapaian tanganku.


Waktuku semakin pendek, namun aku masih saja berdiri terdiam di sini. Aku terlalu nyaman di sini. Aku takut, aku terlalu takut ketika aku keluar dari kenyamanan ini, aku tak akan pernah menemukannya lagi. Aku hanya tersenyum kecut ketika melihat orang lain dengan semangatnya yang berkoar-koar tentang mimpinya, aku hanya diam. Akupun tak pernah sevulgar itu mengumbar apa yang ada jauh di dalam pikiranku. Bagiku, itu cukup untukku.

1799362937.png (551×669)

Tiga? Enam? Tiga belas?

Persetan. Terlalu banyak rencana menumpuk di otakku. Ya, di o-tak-ku. Kau pikir aku terbiasa menuliskannya di atas kertas putih? Aku hanya berharap, semua itu mengendap di salah satu bagian bawah sadarku, sehingga aku akan teringat ketika aku terlupa. Hanya berharap saja. Mungkin.

Tidak tidak. Aku sedang tidak mendengarkan suara siapapun ketika aku menuliskan ini. Hanya ditemani cahaya putih yang menyilaukan mataku dan papan ketik yang tak begitu menyenangkan ini. Tanpa secangkir kopi. Rokok? Tidak, aku tidak mau membakar uangku hanya demi lintingan kertas sepanjang jari telunjukku itu. Oh ya, tanpa pemanis.

Pemanis? Seperti mengingatkanku akan satu hal. Yang aku maksudkan suatu hal. Pentingkah? Tidak juga, hanya.. sedikit.. menggelitik benakku. Ketika ada seseorang yang bercerita padaku bahwa hidupnya belakangan ini terasa begitu suram, aku menjawab mungkin ia butuh pemanis dalam hidupnya. Namun dari balasannya, sepertinya ia masih ragu. Aku hanya heran, bagaimana bisa aku menyarankan orang lain untuk mencari pemanis bagi hidupnya, sementara aku tidak menyarankan hal yang sama kepada diriku sendiri.

Hah, itu lucu. Aku tersenyum.

Read inside me.

Aku hanya masih heran dengan beberapa orang—termasuk diriku sendiri—yang terkadang suka membaca sifat seseorang hanya sekilas saja. Kawan kau tahu kan, mungkin kover sebuah buku terlihat biasa, tetapi dalamnya begitu tidak biasa. Dan pasti ada seseorang yang menyesal karena terburu-buru menutup buku tersebut, hanya karena tidak sreg membaca beberapa halaman awal. Tidak, aku tidak menyindir seseorang.

Aku hanya sedikit menceritakan kisahku, sedikit.

Aku jadi teringat padamu. Padamu yang mengajarkanku peka. Ya, dirimu. Apa kabarmu? Apakah engkau baik-baik di sana? Sudahkah engkau memaafkanku? Memaafkan kebodohanku beberapa tahun silam? Ya aku sadar aku bodoh. Tidak. Aku tidak berharap kau membaca ini, aku tau. Aku hanya ingin berbicara langsung padamu, tetapi tidak di sini.

Rasanya kita berjalan semakin jauh. Aku kadang masih teringat kata-kata manis kita, yang sekarang entah menguap kemana. Menguap seperti kita, yang terbawa angin dan terpisah jarak begitu jauh. Dan semakin jauh. 

Oh mungkin waktu itu kita pernah dekat, tetapi kapan lagi? Aku jujur, aku tak nyaman. Aku tak nyaman dengan hati kita yang semakin membeku. Membeku ditimpa nestapa. Sore itu.. ah sudahlah. Malam itu pun terkadang masih kuingat. Terlintas sosokmu yang terkadang membuatku merana sendiri. Kau tidak menghantuiku kan?

Aku.. entahlah. Aku tak tau ini rindu, atau pilu yang sekian lama tertimbun malu. Malu kepada dirimu, malu kepada senyummu, malu kepada ketulusanmu.

#BumiKeLangit
#TheSeries #4
March 16, 2012

Look Down

+

Chapter 3

Aku terus saja merutuki kehilangan ini. Bukan yang sudah berlalu. Jauh, terlalu jauh. Aku bahkan tak mampu melukiskan dalam lisan jika aku harus bercerita. Yah, begitulah. Kawan, kau tahu kan kehilangan? Sama seperti debu yang disapu angin, seperti siang yang tak pernah bertemu malam. Ironis? Tidak juga. Bukan lebih tepatnya. Mungkin.

“Ia berputar.”

“Apa?”

“Poros itu berputar pada hidupku.”

“Tidak! Sebenarnya hidupmu yang berputar pada poros itu.”

“Sama seperti kepalaku yang terasa berputar-putar. Aku pusing. Sama seperti poros yang mulai goyah itu. Goyah karena lelah berputar. Ia seperti ingin ambruk.”

 lookdown.jpg (524×674)

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Kau tak tahu kalau kau bisa menyeimbangkannya.”

“Lagi?”

“Mungkin.”

“Kau tak yakin?”

“Kau tak yakin?”

“Aku?”

“Ya.”

Waktu.

“Sudah berapa lama kau seperti ini?”

“Aku tak tahu. Aku tak menghitungnya.”

“Jangan terlalu apatis.”

“Salahku?”

“Aku tak mau berdebat. Kau butuh sendiri?”

“Tidak. Aku bukannya selalu begitu? Kau tahu sendiri bukan?”

“ ........ ”

“Aku akan segera menyelesaikannya. Kembalilah nanti.”

Salah?

“Kau tahu, berapa lama kau telah membisu?”

“Tidak. Aku tak peduli sudah berapa lama. Aku menyukainya.”

“ ........ ”

Berharap hujan mampu melarutkan kehilangan ini.. itu bodoh sekali ya? Aku bukan debu, aku bukan pula elektron yang berharap akan dijadikan proton oleh neutron. Tidak sesederhana itu. Akan tetapi, serumit apa itu pun aku juga tidak tahu.

Mungkin jika aku menjadi mereka, aku ingin memainkan nada itu..

#BumiKeLangit
#TheSeries #3
January 27, 2012

Aw(e)akening

+
Chapter 2

.........
semua karena cinta
ku menangis
semua karena cinta
ku tertawa
semua karena cinta
semua karena cinta

yang kau tinggalkan hanyalah luka

dan semua menghilang
........

Suara lembut Ratna Ayu mengalun pelan di telinga kanan dan telinga kiriku, mengisi setiap ruang yang kusesaki dengan earphone handphoneku. Aku menoleh ke samping kananku, melongok keluar, melihat sketsa yang hampir setiap dua minggu sekali aku memandanginya. Pohon-pohon, bentangan sawah, dan jejeran rumah seakan berjalan, dan meninggalkanku semakin jauh. Yah, aku harus pergi lagi dari tempat kelahiranku untuk kesekian kalinya dalam sebulan ini.  

Pikiranku sedang kacau, entah mungkin ada baut yang lepas atau kabel yang salah sambung. Aku bukan sedang sakau atau butuh pelarian. Aku seperti kehilangan pijakan, dan aku seperti tak punya pegangan. Bukan karena lantunan lagu tadi yang membuatku mendadak mellow, tapi ada hal lain. And this is not me.
Aku mengira dua ribu dua belas akan jauh berbeda. Tetapi memang berbeda, berbeda jauh dari apa yang aku harapkan. Aku masih saja bingung. Sama seperti laju bus ini yang membawaku semakin jauh meninggalkan kota kelahiranku, aku pun semakin jauh dari apa yang seharusnya aku lakukan. Semuanya semu. Semuanya menjadi biru.

Kau tahu kawan, dua hari lalu aku masih berada di peraduanku. Dan sekarang, aku sedang duduk termangu memandang keluar menembus kaca bus ini, yang membatasi aku dan apa yang aku lihat. Aku bukan kabur, aku bukan lari. Aku hanya... butuh tempat untuk sendiri. Untuk menenangkan diri. Walaupun sesampainya disana aku tak melakukan apa yang sudah kurencanakan. Setidaknya aku merasa lebih nyaman disini, aku bisa sejenak menjadi 'diriku' yang lain.

Kau itu pengecut atau ....... apa?

Pertanyaan retoris yang sering kuajukan pada diriku sendiri. Entahlah... pun aku tahu jalan ceritanya, keenggananku terlalu besar untuk menuliskannya disini. Kau itu terlalu ambigu untuk kutulis disini. Lagipula, kau siapa? Aku siapa? Kita siapa?

Kau tahu, ini bukan tentang aku dan dirimu. Ataupun tentang dirimu dan dengannya. Apakah aku peduli? Tidak sama sekali, aku hanya... prihatin. Aku tersadar, ini bukan pertentangan tentang siapa aku, siapa dirimu. Ini tentang aku dan diriku. Kamu? Aku tak seyakin kemarin.

"Lalu kau tempatkan dimana diriku?" tanyamu penuh iba. Berharap ada sedikit celah untuk merasuki pikiranku (lagi).

"Beradalah dimana seharusnya berada. Dan kamu tahu, kamu seharusnya tidak disini. Seharusnya, sejak dulu kamu tak perlu berhenti disini."

Dia menunduk, bulir air mata perlahan meluncur melewati pipinya dan jatuh bebas. Dia berbalik, dan melangkahkan kakinya tanpa seuntai kata yang terucap. Mungkin ada sebaris alasan yang ingin ia ungkapkan (lagi), tapi apa peduliku? Apa pedulinya? Apakah aku terlalu kejam? Terlalu naif dengan diriku sendiri?

Kau tahu langit, untuk menyembuhkan sebuah luka ini, aku "butuh" luka baru menutupnya. Itu kata temanku ketika aku memintanya untuk setidaknya menyembuhkan lukaku. Dia menolak. Dan aku tersenyum mendengarkan jawabannya. Aku tidak dapat memaksanya, bahkan hingga saat ini. Sama seperti ia yang tidak memaksaku untuk meminta lebih. Aku menghargainya. Aku membutuhkannya, membutuhkan keberadaannya. 

Aku dikemana?

Kuhempaskan tubuhku, menatap langit-langit kosong di kamar kosku. Aku begitu lelah, jiwaku begitu lelah. Kau berpikir aku menyerah? Aku kalah? Tidak kawan. Kau tidak tahu posisiku seperti apa. Aku bahkan tak tahu posisiku dimana sekarang. Jika diandaikan diantara bumi dan langit, aku sendiri tak yakin akan hal itu.

"Ternyata sakit itu bisa terasa manis ya..."

"Yang seperti apa?"

"Yang sekarang aku rasakan."

"Lalu?"

"Apa kau pikir balas dendam akan membuat ini menjadi lebih 'manis'?"

"Tergantung seberapa banyak pemanis yang kau campurkan."

"Hahaha. Harus seberapa banyak?"

"Sebanyak apapun itu, apakah akan membuatmu puas? Apakah itu akan membuatmu berhenti menjadi orang bodoh?"

"Aku... tidak tahu."

"Dewasalah. Hal seperti itu hanya akan membuatmu terlihat semakin bodoh."

"Aku memang bodoh. Dulu, saat ini, dan ..... "

"Cukup. Belajar dari kebodohanmu."

"Bagaimana caranya?"

"Jadilah pintar."

Dia menghilang lagi. Dan aku hanya bisa terpaku dengan kebodohanku yang masih melekat. Bodoh!


Lelaplah sejenak bersama mimpiku.


Aku masih belum bisa terlelap. Atau memang tak bisa? Entahlah, aku belakangan ini bermasalah dengan tidurku. Ku buka folder musik di laptopku, mencari lagu pengantar tidur untuk mengistirahatkan jiwa yang lelah ini. Ketika pandanganku tertuju sebuah lagu, lagu yang mengingatkanku pada sebuah kenangan tentang... masa laluku.


.......
kau
tinggalkan mimpiku

dan itu hanya sesalkan diriku


ku harus lepaskanmu

melupakan senyummu

semua tentangmu,
tentangku,

hanya harap


jauh,

ku jauh,

mimpiku

dengan inginku
.......


Kenangan yang indah, dan bisa membuatku tersenyum.... sejenak. 



#BumiKeLangit
#TheSeries #2
October 28, 2011

The Three Musketeers

+
Chapter 1


Jogja, suatu Jumat siang yang panas di bulan Oktober
Hari ini terasa sangat menyengat sekali bagiku, bahkan meskipun saat ini adalah musim penghujan, peluh keringat masih saja bercucuran membasahi kaosku. Aku masih ada kuliah, namun pikiranku sudah melayang melayang ke warung makan dekat kampusku. Yah meskipun hari ini cuma ada satu mata kuliah, namun aku sudah tidak ada semangat lagi dan ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ber-AC yang juga tak mampu mendinginkan hatiku. Entah apa yang kurasa, namun hari ini aku merasa tidak enak. Ada sesuatu yang salah, semenjak sore kemarin. Aku ingin pulang.

Waktu menunjukkan pukul 11 siang, aku lekas turun dari lantai 3 gedung tua di kampusku dan menuju warung makan yang daritadi menghiasi otakku. Segera kupesan makan dan segelas air untuk membasahi tenggorokanku. Aku berharap ini bisa sedikit bisa menenangkan perutku agar tidak mempengruhi pikiranku menjadi lebi buruk lagi. Dan cara ini cukup berhasil.

Aku kembali ke kos dan sembari menunggu waktu azan untuk melaksanakan shalat Jumat, aku menyalakan kipas angin. Hari ini sungguh panas dan membuatku bajuku basah. Kuputuskan untuk segera berganti pakaian, lalu mengambil air wudlu dan bergegas ke masjid setelah azan berkumandang. Kulihat lantai satu sudah terisi penuh, jadi kuputuskan naik ke lantai dua.

Di sana kulihat masih ada beberapa shaf yang kosong, kupilih yang dekat dengan kipas angin, karena aku masih merasa kepanasan. Di kanan depanku, ada dua anak kecil yang sedang duduk bercengkrama, aku berpikir pasti ini anak hanya akan berisik saja, seperti di masjid di kampung halamanku. Aku putuskan untuk tidak langsung duduk, aku ingin shalat sunah terlebih dahulu. 

Ketika aku sedang melaksanakan shalat, datang satu anak kecil lagi, teman mereka mungkin. Dia akan lewat di depanku yang sedang melaksanakan shalat sunah. Aku takjub ketika ia tidak lewat di depanku, melainkan mengambil jalan memutar lewat belakangku. Subhanallah, aku takjub melihat mereka. Ternyata dugaanku salah, aku hanya bisa tersenyum.

Kemudian dimulailah khutbah siang itu, dan jamaah lain mulai berdatangan memenuhi setiap shaf yang masih kosong. Ketika shalat akan dimulai, ada satu dua shaf di depanku yang masih kosong. Dan aku lagi-lagi dibuat takjub oleh ketiga anak kecil ini. Salah satu dari mereka maju untuk mengisi shaf di depan mereka yang masih kosong. Subhanallah, masih ada anak kecil seperti mereka.. yang ku kira hanya bisa membuat kegaduhan, ternyata masih ada yang seperti mereka..

***
Aku melihat jam di ponselku,, jam 12.40. Hmm.. masih ada waktu untuk sejenak beristirahat sebelum pulang ke kota kelahiran. Ah iya, hari ini tanggal 28 Oktober, hari peringatan Sumpah Pemuda yang ke-83. Rasanya aku sebagai pemuda Indonesia, belum bisa memberikan apapun ke negeri yang telah membesarkanku ini. Aku masih jauh dari siap untuk berkarya untuk negeri ini. Tapi suatu hari nanti, aku ingin memberikan sesuatu untuk negeriku ini. Entah itu apa..
Just, ignore me
Ahh.. aku teringat dengan diriku yang lain hari ini. Entahlah, aku pun tidak tahu. Aku sangat ingin diam hari ini, aku tak ingin membuang kata-kata. Aku hanya ingin diam.


Rasanya ini sudah berulang kali, namun tetap sama saja.. sama sekali tidak mengenakkan.

***
118 km barat Jogja, malam yang sepi, masih Oktober
Alunan merdu Chantal Kreviazuk menemaniku malam ini, malam yang sepi. Aku ingin bersenandung..

Bersambung...

#BumiKeLangit
The Series #1
Showing posts with label The Series. Show all posts
Showing posts with label The Series. Show all posts